Utilisasi Telemedicine untuk Meningkatkan Akses Pelayanan Kesehatan Saat Pandemi

Kelas SDGs yang ketiga diselenggarakan pada 7 Desember 2020 dengan tema “NCD, Pandemi, dan Perempuan.” Tema ini diusung mengingat luasnya dampak pandemi COVID-19, tidak hanya pada sistem kesehatan, tetapi juga berdampak pada ekonomi, politik, bahkan pariwisata. Hal ini membuat target pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia semakin sulit tercapai.

Sanjoyo, Manajer Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs, menyebutkan pandemi menyebabkan target SDGs pada tingkat nasional dan regional harus disesuaikan ulang. Selain itu, diperlukan pula dukungan dari aktor non pemerintah seperti kelompok filantropi, pelaku usaha, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil di berbagai sektor. Sinergi dari seluruh komponen masyarakat diharapkan dapat mendorong tercapainya target SDGs pada tahun 2030, mengingat target SDGs yang ambisius serta menekankan prinsip leave no one behind.

Merujuk pada Laporan Pencapaian SDGs 2019, Sanjoyo menyatakan masih banyak aspek capaian SDGs di Indonesia yang perlu ditingkatkan. Dari 280 indikator SDGs, terdapat 146 indikator yang mengalami kemajuan dan 50 diprediksi akan tercapai. Sementara ada 84 indikator yang membutuhkan perhatian khusus. Pada bidang kesehatan misalnya, situasi pandemi memperlihatkan kerentanan sistem kesehatan, membuat layanan kesehatan primer terganggu, serta memperburuk malnutrisi pada anak yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan prevalensi stunting.

Pelayanan Kesehatan Terhambat

Ede Surya Darmawan, perwakilan Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia, menyatakan penyebaran pandemi di Indonesia menurunkan akses dan pelayanan fasilitas kesehatan secara menyeluruh. Masyarakat juga enggan mengunjungi fasilitas kesehatan karena khawatir akan tertular virus.

Dari sisi kesehatan reproduksi, konsultasi keluarga berencana sangat menurun. Dari awal tahun hingga Mei 2020, telah terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi sekitar 50 persen. Kehamilan yang tidak diinginkan diprediksi meningkat 10 hingga 20 persen. Selain itu, program imunisasi anak juga dilaporkan mengalami gangguan di hampir 84 persen Puskesmas. Dibatasinya sebagian besar pelayanan Puskesmas dan Posyandu membuat orang tua kesulitan mendapatkan imunisasi bagi anaknya.

Keterbatasan akses kesehatan juga menimbulkan ancaman bagi penderita Penyakit Tidak Menular (PTM). Angka kematian dikhawatirkan akan meningkat karena penderita PTM memiliki risiko tinggi tertular COVID-19 serta akses mereka terhadap pengobatan dan konsultasi berkala terganggu. Pandemi merupakan tantangan bagi pemerintah dan sistem kesehatan Indonesia karena harus merespons pasien COVID-19 yang terus bertambah sambil tetap mencegah peningkatkan angka kematian serta prevalensi penyakit lain.

Perkembangan Telemedicine

Telemedicine menjadi inovasi yang dapat meningkatkan akses ke fasilitas kesehatan di masa pandemi sebagai substitusi dari pelayanan tatap muka. Alternatif ini sangat berguna bagi individu yang memiliki risiko penularan tinggi. Menggunakan telemedicine, konsultasi dengan praktisi kesehatan dan akses terhadap obat dapat dilakukan dari mana saja, termasuk dari rumah, sehingga mengurangi risiko terpapar COVID-19. Beberapa inisiatif telemedicine yang muncul dalam beberapa tahun ke belakang antara lain:

  • Temenin (Telemedicine Indonesia)

Temenin merupakan program Kementerian Kesehatan yang memberikan layanan telekonsultasi, teleradiologi, tele-EKG, dan tele-USG antar fasilitas kesehatan. Dokter maupun operator dari rumah sakit yang telah bekerja sama dengan Temenin dapat mengajukan maupun memberikan konsultasi. Program ini utamanya diharapkan mampu mengatasi keterlambatan diagnostik dan keterbatasan sarana diagnostik, serta mempermudah monitoring pasien.

  • Alodokter

Alodokter adalah platform kesehatan digital yang beroperasi di Indonesia sejak tahun 2014. Aplikasi ini dapat digunakan untuk konsultasi melalui chat dengan dokter, mencari dokter spesialis atau rumah sakit pilihan, serta berbelanja kebutuhan kesehatan. Alodokter juga bermitra dengan berbagai rumah sakit di Indonesia maupun luar negeri.

Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk pelayanan kesehatan terus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan pelaku bisnis. Diharapkan nantinya telemedicine dapat dimanfaatkan secara masif agar pelayanan kesehatan mudah terjangkau bagi seluruh masyarakat sesuai dengan tujuan SDGs. Dibutuhkan koordinasi berbagai pihak dari mulai pemerintah, pelaku bisnis, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, hingga rumah sakit untuk memastikan telemedicine bisa terus diimplementasikan. 

Penulis: Puput Pradani A R; Ardiani Hanifa Audwina



Organisasi Penyelenggara: TRACK SDGs, OXFAM, AILabs
Lokasi Kegiatan: Zoom

Masuk