Sustainable Fashion: Sebuah Upaya Membangun Tanggung Jawab Produksi

Pernahkah kita sadari bahwa produsen pakaian menjadi salah satu penyebab kerusakan lingkungan? Industri tekstil merupakan 10 besar industri dunia yang paling banyak menggunakan dan mencemari air. Bahkan berdasarkan data dari Boston Consulting Group, pada 2015 saja, industri ini menghabiskan 79 miliar meter kubik air, melepaskan 1,715 juta ton CO2, dan memproduksi 92 juta ton sampah. Industri inilah yang kemudian kita kenal memunculkan istilah fast-fashion.

Pola kerja dalam fast-fashion adalah penyebab industri fesyen menjadi salah satu penyumbang polusi terbesar sedunia. Istilah fast fashion mencuat semenjak banyak orang dapat dengan mudah membeli pakaian dengan harga terjangkau. Desain-desain pakaian yang dikeluarkan selalu diperbarui dan mengikuti perkembangan mode desainer terkenal, selebriti ataupun fashion model. Perkembangan modenya juga dipengaruhi oleh setiap pergantian musim layaknya desainer papan atas.

Menurut Prof. Rachmat Witoelar, Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, industri mode global menghasilkan 1,2 miliar ton emisi gas rumah kaca per tahunnya. Ditambah lagi, industri ini banyak bergantung ke Sumber Daya Alam (SDA) yang tidak bisa diperbarui, seperti minyak untuk memproduksi serat sintetik, pupuk untuk menanam kapas, serta cairan kimia untuk membuat dan mewarnai serat dan tekstil.

Inovasi Kaum Muda

Kaum muda Indonesia telah melakukan berbagai inovasi untuk menyelamatkan lingkungan dari limbah industri tekstil, salah satunya dengan menerapkan prinsip sustainable fashion. Menurut desainer Monika Jufry, sustainable fashion adalah proses produksi busana yang memperhatikan keberlanjutan industri, bukan hanya produk akhirnya. Sustainable fashion memiliki makna yang luas, mulai dari pertimbangan terhadap kesejahteraan pekerja sampai manfaat limbah untuk lebih ramah lingkungan.

Salah satu inovasi sustainable fashion adalah thrift shop. Thrift shop menjadi trend di kalangan anak muda melalui proses jual beli pakaian second (bekas pakai) secara daring sehingga embeli tidak perlu meluangkan waktu pergi ke luar rumah menuju pasar khusus barang second. Pemilik online thrift shop akan mengkurasi dan memilih barang-barang yang layak pakai untuk dijual kembali. Tren thrift shop meminimalisir limbah tekstil karena dapat dimanfaatkan kembali dengan baik.

Prinsip sustainable fashion tidak hanya dilirik anak muda, beberapa desainer dan selebriti tanah air juga membuat gerakan penyelamatan lingkungan dari limbah industri tekstil. Dilansir dari Marketing Communication (1/11/2019), empat desainer Indonesia (Ariy Arka, Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanagara, dan Yulia Fandy) berkolaborasi membuat pergelaran busana bernama “Fashion Rhapsody”, mereka menampilkan rancangan busana hasil dari olahan limbah industri yang tersisa.

Inisiatif lainnya juga dilakukan musisi tanah air, Andien Aisyah, dengan membentuk Garage sale bernama Setali Indonesia untuk mengurangi limbah tekstil dengan memperpanjang usia pemakaian barang. Komunitas ini diharapkan menjadi besar sehingga dapat menjaring relawan yang memiliki keresahan bersama.

 

Mengapa Sustainable Fashion?

Penerapan sustainable fashion akan sangat membantu pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam soal konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDGs 12). Berikut beberapa manfaat dari penerapan sustainable fashion terhadap pencapaian SDGs:

1. Eco-friendly atau ramah lingkungan

Sustainable fashion membantu menekan limbah tekstil dan memberi banyak manfaat, mulai dari aspek bahan yang dipakai, lingkungan yang terdampak, kesehatan pemakai, dan daya tahan pakaian. Sustainable fashion menggunakan bahan-bahan alami bebas pestisida, bisa didaur ulang, serta tahan lebih lama dan tidak gampang rusak.

2. Ethical Fashion

Prinsip sustainable fashion juga memperhatikan hak-hak dan kesejahteraan pekerja. Beberapa produsen mode bahkan memberikan sebagian keuntungan usaha untuk memberdayakan pengrajin atau buruh yang terlibat.

3. Menawarkan Opsi Slow Fashion

Berbeda dari fast-fashion, slow fashion berfokus pada dampak yang ditimbulkan produksi industri. Praktisi slow fashion mendorong pelaku industry dan konsumen memperhatikan pengaruh konsumsi yang mereka lakukan terhadap lingkungan, tidak hanya tren semata.

Sesuai dengan tujuan ke-12 SDGs, yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, implementasi prinsip sustainable fashion dapat secara signifikan membantu menyelamatkan lingkungan dari limbah tekstil. Bentuk tanggung jawab ini juga dapat mempengaruhi kita untuk mengurangi gaya hidup konsumtif dan mengonsumsi sandang sesuai kebutuhan agar tidak menumpuk menjadi polusi yang sulit diurai.

 

 



Penulis: Audrey Artanta Nature Panjaitan, Ika Kartika Febriana, Amru Sebayang
Enumerator:

Masuk