Kota Pintar dan Tangguh: Peluang dan Tantangan Kota di Tengah Pandemi

Pesatnya perkembangan informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT) membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat, terutama di wilayah perkotaan. Tingginya tingkat intervensi ICT ini menyasar pola kehidupan dan tata kelola kota-kota besar di dunia. San Fransisco (AS), London (Inggris), Seoul (Korea Selatan), Taipei (Taiwan),­­ Singapura (Singapura), dan Tokyo (Jepang) merupakan beberapa kota-kota besar dunia yang paling tinggi tingkat intervensi teknologi dan informasinya.

Dalam satu dekade terakhir, tingkat intervensi teknologi dan informasi yang tinggi berkorelasi erat dengan perkembangan konsep smart city atau “kota pintar”     yang bergantung pada penataan infrastruktur kota modern dengan dukungan ICT. Boyd Cohen, peneliti EADA Business School Spanyol, menggambarkan  kota pintar dalam diagram hexagon yang mencakup enam pilar implementasi, yakni smart people, smart economy, smart living, smart environment, smart mobility, dan smart governance.

Melalui enam pilar tersebut, sebuah kota diharapkan dapat dengan cepat dan akurat memberikan solusi untuk setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat, mulai dari pengelolaan sumber daya secara efisien dan berkelanjutan, kemudahan akses informasi publik, kemudahan koneksi dengan wilayah lain, hingga penyederhanaan regulasi dan birokrasi pemerintah dalam pelayanan publik.

Namun demikian, perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi yang pesat ini tidak cukup menangani beragam masalah di wilayah perkotaan. Penggunaan paradigma ketangguhan (resilience) kota diperlukan agar kota dan masyarakat mampu bertahan, beradaptasi, dan terus berkembang, meski dihantam masalah dan tantangan.

Problematika Kota

Memasuki 2020, umat manusia  menghadapi ujian berat. Pandemi COVID-19 mendorong pemerintah memperhatikan pembangunan sistem kesehatan primer yang memadai dan merata di setiap daerah, hingga kesiapan sarana teknologi dan informasi sebagai kebutuhan mitigasi bencana alam dan non-alam seperti pandemi COVID-19.

Kota seperti Jakarta sudah memanfaatkan teknologi semacam itu. Melalui aplikasi JAKI, Pemprov DKI Jakarta menyertakan Corona Likelihood Metric (CLM), yakni sistem self-assessment masyarakat untuk menilai apakah mereka terpapar COVID-19 melalui pencocokan indikasi awal. Teknologi ini cukup efektif dalam pelacakan suspek bergejala untuk meminimalisir penularan, terutama pada masyarakat dengan tingkat mobilitas tinggi di wilayah perkotaan.

Teknologi semacam ini penting mengingat peran kota sebagai  wilayah tinggal 55,7 persen (sekitar 4,2 miliar) penduduk dunia (UNPD: 2018) merupakan habitat ideal persebaran virus. UN Habitat mengestimasi sekitar 90 persen kasus terkonfirmasi COVID-19 di seluruh dunia berada di wilayah perkotaan yang juga episentrum pandemi. Besarnya ukuran populasi dan tingkat interkonektivitas global dan lokal yang tinggi membuat kota rentan terhadap persebaran virus.

Peluang Penataan Ulang

Menimbang dampak pandemi COVID-19 terhadap kehidupan perkotaan, pada Juli 2020 lalu PBB meluncurkan “Policy Brief on COVID-19 in the Urban World” yang berisikan tiga rekomendasi utama untuk merespons dampak pandemi di wilayah perkotaan. Rekomendasi ini tidak terlepas dari tujuan pembangunan berkelanjutan no. 11 (make cities and human settlements inclusive, safe, resilient, and sustainable).

Adapun, tiga poin rekomendasi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Memastikan semua fase respons pandemi mengatasi masalah ketidaksetaraan dan defisit pembangunan jangka panjang, serta menjaga kohesi sosial. Di dalamnya termasuk memprioritaskan penanganan kelompok paling rentan, mulai dari jaminan tempat tinggal yang aman, akses ke air bersih dan sanitasi, serta menaruh perhatian  dalam pelayanan publik di pemukiman padat penduduk dan kumuh.
  2. Memperkuat kapasitas pemerintah daerah. Penanganan pandemi membutuhkan tindakan tegas dan kerja sama yang optimal antara otoritas lokal dan nasional. Paket stimulus dan bantuan sosial harus tanggap dan tepat sasaran. Karenanya, perlu peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam mengatur dan mendistribusikannya.
  3. Mengejar pemulihan ekonomi hijau, tangguh, dan inklusif. Berkurangnya mobilitas warga kota selama masa penjarakan sosial perlu dijadikan kesempatan mengubah pola ekonomi dan mobilitas yang mempertimbangkan dampak ekologis, termasuk mengarahkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang rendah karbon demi mengakselerasi tujuan pembangunan berkelanjutan.

Peran Masyarakat Sipil

Masyarakat sipil ikut berperan dalam upaya menciptakan kota yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Selama ini, banyak inisiatif baik yang muncul di berbagai wilayah dan memberikan dampak signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan di wilayah kota. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Ayo ke Taman

Komunitas ini mempromosikan kepedulian terhadap ruang terbuka publik di wilayah perkotaan. Baru-baru ini, mereka mengadakan Festival tentang Taman yang berisikan rangkaian diskusi dan lokakarya virtual tentang alam, manusia, dan kota, serta peran masyarakat sebagai penduduk bumi untuk kehidupan kota yang lebih baik.

  • Kaki Kota

Komunitas yang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini menjadi wadah pegiat hak atas kota untuk berkolaborasi membangun kota yang tangguh dan inklusif. Mereka ikut menginisiasi gerakan bertajuk “Mobilitas Hak Setiap Orang” yang bertujuan memfasilitasi mobilitas penyandang disabilitas di Kota Banjarmasin.

Pandemi Sebagai Momentum

Sejarah mencatat kehadiran wabah penyakit mampu memicu reformasi sanitasi besar-besaran, pelembagaan kesehatan masyarakat, dan praktik perencanaan kota di Eropa pada abad ke-19.

Pandemi ini sesungguhnya memberi kita jeda dan kesempatan untuk merekonstruksi pola pikir, perilaku, dan kebiasaan masyarakat kota ke arah yang sebelumnya kerap sulit dilakukan. Namun, menjadi pertanyaan kemudian, apakah kita mau berimajinasi dan memiliki visi untuk mewujudkan kota menjadi tempat yang lebih aman, nyaman, mudah diakses, dan tangguh dalam menghadapi permasalahan-permasalahan lain di masa mendatang?



Penulis: Fachrial Kautsar ; Amru Sebayang
Enumerator:

Masuk