Mengapa Pencapaian Kesetaraan Gender Membutuhkan Peran Laki-Laki?

Isu kesetaraan gender bukan saja milik perempuan dan tidak selalu menyoal sikap menghargai hak-hak perempuan. Lebih jauh, isu ini juga mengkritik nilai-nilai maskulinitas yang ditanamkan norma sosial yang patriarkis dan berpengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat. 

Laki-laki ataupun perempuan sama-sama dirugikan oleh budaya patriarki. Namun sayangnya, laki-laki jarang menyadari budaya ini juga merugikan diri mereka sendiri. Padahal, stereotipe tentang apa yang ‘maskulin’ dan ‘feminin’ tidak hanya berpengaruh terhadap urusan-urusan privat, tetapi juga urusan-urusan publik, tak terkecuali politik dan proses pengambilan kebijakan.

Kita bisa merenungkan, mengapa tidak ada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di dalam Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 maupun Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN)? Sebaliknya, mengapa begitu banyak nama perwira angkatan bersenjata dalam komite tersebut?

Stereotipe bahwa urusan kebencanaan merupakan pekerjaan laki-laki membuat perempuan dipandang kurang memiliki kapabilitas dan respon kegawatdaruratan yang baik dibandingkan dengan peran domestik yang mereka miliki. Padahal, dampak pandemi COVID-19 terhadap kaum perempuan begitu besar. Laporan UN Women (2020) menunjukkan 57 persen perempuan mengalami peningkatan stres dan kecemasan selama pandemi.

Seharusnya, menerapkan strategi pengarusutamaan gender dapat menjadi cara mewujudkan tujuan kesetaraan gender di masa pandemi. Namun sayang, implementasi strategi pengarusutamaan gender di Indonesia tergolong lemah. Ini terlihat dari minimnya representasi perempuan dalam struktur pengambil kebijakan, tidak adanya Menteri PPPA dalam struktur satgas, hingga terbatasnya ketersediaan data yang tersegregasi gender.

Padahal, pengambil kebijakan harus memiliki perspektif gender dan menyediakan data tersegregasi gender dalam menangani pandemi sebagai dasar pengambilan kebijakan untuk memahami perbedaan dampak pandemi terhadap laki-laki ataupun perempuan, sehingga mampu merumuskan langkah mitigasi yang efektif dan tepat sasaran.

Laki-laki dalam Kesetaraan Gender

Tidak ada upaya instan untuk menghilangkan norma sosial yang patriarkis di masyarakat. Karenanya, isu kesetaraan gender harus menjadi pekerjaan rumah bagi laki-laki maupun perempuan. Laki-laki bisa terlibat mengupayakan kesetaraan gender dengan berbagai cara. 

Menurut Nur Hasyim, pendiri Aliansi Laki-laki Baru (ALB), peran laki-laki sebagai aktor dalam isu kesetaraan gender perlu dimulai dari menyadari bahwa laki-laki memiliki privilege atau perlakuan istimewa dalam masyarakat. Perlakuan inilah yang membawa konsekuensi negatif berupa relasi tidak setara antara perempuan dan laki-laki.

Selain itu, laki-laki juga bisa mulai menormalisasi pekerjaan domestik sebagai pekerjaan dan tanggung jawab semua orang, bukan sebagai pekerjaan yang ‘kurang maskulin’. Mengikis pola pikir ini bisa menghilangkan stereotipe atas gender secara efektif. Sebab, penting bagi laki-laki untuk keluar dari ‘zona nyaman’ dan menularkan kebiasaan ini ke lingkaran sosial terdekatnya.

Inisiatif Masyarakat Sipil

Namun, tahukah kamu jika selama ini banyak inisiatif aktor pembangunan yang mengupayakan terciptanya kesetaraan gender? Beberapa di antaranya melibatkan peran laki-laki secara bermakna, seperti:

  • Prevention+

Program inisiasi Rutgers WPF Indonesia ini merupakan lanjutan dari program MenCare+ yang berfokus pada pencegahan kekerasan berbasis gender dengan pendekatan pelibatan laki-laki. Program ini bertujuan mewujudkan kesetaraan gender sebagai kondisi ideal bagi pemenuhan hak-hak dan kesehatan seksual/reproduksi, serta membongkar norma-norma gender yang ada. Dalam implementasinya, program ini menggandeng mitra lokal,  seperti Yabima Indonesia, Sahabat Kapas, Rifka Annisa WCC, Damar Perempuan, dan Swara Rahima.

  • Aliansi Laki-laki Baru (ALB)

Komunitas ini merupakan gerakan laki-laki yang bertujuan memperjuangkan kesetaraan gender. Melalui website dan media sosial mereka, ALB mengedukasi dan mengkampanyekan peran laki-laki dalam isu kesetaraan gender, mulai dari pencegahan kekerasan berbasis gender (KBG) hingga permasalahan maskulinitas dan budaya patriarki.

  • Pikiran Lelaki

Pikiran Lelaki merupakan platform media sosial yang bergerak di bidang kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan seksual. Konten media sosial mereka telah banyak menginspirasi dan mengedukasi masyarakat, terutama materi-materi terkait stereotipe dalam budaya patriarki, upaya melawan budaya dominasi, relasi kuasa, hingga urgensi disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga bagi masyarakat luas.

Pada akhirnya, pencapaian kesetaraan gender perlu dilaksanakan bertahap. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki andil untuk mencapainya. Sebab, dunia yang lebih baik tidak akan tercapai tanpa hadirnya kesetaraan gender dalam masyarakat.



Penulis: Fachrial Kautsar
Enumerator:

Masuk