Marcus Rashford: Cerminan Semangat Pengentasan Kelaparan di Tengah Krisis Pandemi

Di masa awal krisis akibat pandemi, Menteri Kesehatan Inggris sempat mengeluarkan pernyataan yang cukup kontroversial. Ia meminta para pesepakbola liga primer Inggris untuk “berkorban” dengan memotong sebagian gajinya demi berkontribusi pada pengurangan beban sistem layanan kesehatan nasional di Inggris. Sebuah pengorbanan yang bahkan tidak dilakukan oleh para anggota parlemennya sendiri.

Namun siapa sangka, seorang bintang muda asal Manchester, yang juga merupakan penyerang andalan ‘The Three Lions’ merespons tuntutan tersebut dengan beberapa “lompatan” yang jauh melampaui ekspektasi sang Menteri Kesehatan Inggris.

Ia adalah Marcus Rashford, pemain asal klub Manchester United yang baru berusia 22 tahun. Rashford, yang dikenal sangat peduli terhadap nasib anak-anak usia sekolah di Inggris, telah berhasil membuat sebuah kampanye pengentasan kelaparan menjadi begitu masif ke seluruh Inggris Raya.

Tercatat per 20 Maret 2020, Rashford telah membantu Fareshare, sebuah badan amal yang berfokus mengentaskan kelaparan di Inggris. Melalui akun media sosialnya, Rashford meminta semua orang untuk ikut serta membantu anak-anak Inggris yang kelaparan akibat karantina wilayah (lockdown) dan absennya makan siang gratis di awal pandemi.

Bahkan, ketika efek kampanyenya berhasil meluas dan bantuan telah melebihi target, upaya Rashford untuk mengentaskan kelaparan anak di Inggris tidak berhenti. Pada tanggal 15 Juni 2020, ia membuat surat terbuka kepada pemerintah Inggris untuk terus melanjutkan program pemberian kupon makanan bagi 1,3 juta anak se-Inggris Raya.

Dengan menaikkan tagar #maketheuturn, Rashford menuntut pemerintah Inggris untuk segera mengambil bagian dari tanggung jawab mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan anak-anak setelah banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19. Strategi ini berhasil. Hanya berselang satu hari, pemerintah Inggris langsung mengumumkan akan menggelontorkan dana sebesar 120 juta pounds untuk makanan gratis berupa voucher bagi anak-anak usia sekolah selama musim panas.

Didasari Pengalaman Pribadi Rashford

Dalam cuitan akun Twitter-nya, Rashford mengungkapkan bagaimana upaya yang dia lakukan ini semata didasari oleh pengalaman pribadinya sewaktu kecil. Ibunda Rashford yang merupakan orang tua tunggal membesarkan anak-anaknya dengan jerih payah yang luar biasa. Rashford bahkan menceritakan bagaimana keluarganya hidup dengan bergantung pada makanan-makanan gratis di sekolah dan belas kasihan tetangga. Oleh karenanya, ia tidak ingin anak-anak usia sekolah di Inggris merasakan kesulitan yang sama—atau bahkan lebih parah—di tengah pandemi.

“Ini bukan soal politik, tapi soal kemanusiaan,” tulis Rashford dalam sebuah pernyataan. Lebih lanjut, ia juga mengatakan: “Anak-anak tersebut sangat berarti. Mereka adalah masa depan bagi negara ini dan bukan hanya sekedar angka. Selama mereka belum memiliki suara, mereka akan memiliki dukungan saya,” ujar Rashford secara tegas.

Sikap dan pernyataan Rashford ini menggambarkan bagaimana seorang figur publik memanfaatkan suara dan popularitasnya dengan sangat baik. Ia sadar bahwa dirinya memiliki pengaruh yang besar bukan sekadar untuk mengkampanyekan isu yang ia pedulikan, namun juga bisa mendorong lahirnya sebuah kebijakan dan perubahan yang signifikan. Aksi-aksi sosialnya pun mengantarkan bintang 22 tahun ini mendapat gelar kebangsawanan Member of the British Empire (MBE) oleh Kerajaan Inggris.

Baginya, kelangsungan hidup anak-anak sangat berarti bagi masa depan sebuah bangsa. Alasan itu pula yang membuatnya terus memperjuangkan tersedianya pasokan makanan bagi anak-anak Inggris dengan bergabung sebagai sukarelawan di satgas pengentasan kelaparan. Hal ini semata untuk mewujudkan tidak ada anak-anak yang “tertinggal” karena kekurangan asupan makanan selama pandemi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sebelum pandemi COVID-19 melanda, telah banyak indikator SDGs yang memperoleh status capaian baik di bidang ketahanan pangan dan gizi di Indonesia. Beberapa di antaranya ditunjukkan dengan angka prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan (prevalence of undernourishment) yang semakin membaik, yaitu dari sebesar 10,73% (2015) menjadi 7,66% (2019). Lalu prevalensi penduduk dengan kerawanan pangan sedang atau berat, berdasarkan Skala Pengalaman Kerawanan Pangan juga membaik, yaitu dari sebesar 8,66% pada tahun 2017 menjadi 5,42% pada tahun 2019.

Meskipun, capaian-capaian ini juga masih menemui sejumlah tantangan, seperti meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian bencana akibat perubahan iklim; proporsi kehilangan hasil dan pemborosan pangan; hingga distribusi logistik dan pangan yang belum merata. Terlebih di tengah krisis pandemi, permasalahan di tengah masyarakat tentu menjadi berkali-kali lipat beratnya. Perlu upaya ekstra dari berbagai pemangku kepentingan untuk bahu-membahu menangani permasalahan kelaparan di berbagai wilayah di tanah air.

Tak Perlu Menjadi Marcus Rashford

Siapapun bisa ikut berperan dalam upaya pengentasan kelaparan. Di Indonesia, beragam inisiatif serupa telah dilakukan oleh komunitas, pengembang aplikasi, atau organisasi masyarakat sipil di berbagai wilayah. Beberapa di antaranya:

  • Aplikasi DamoGO

Merupakan platform digital untuk berbagi makanan dan mengurangi sampah sisa makanan. Melalui tagline #YukDihabisin, aplikasi ini mendorong perilaku konsumsi masyarakat untuk lebih peduli dan bertanggung jawab melawan makanan sisa (food waste). Hingga kini, aplikasi DamoGO telah memiliki 3500 outlet dan 80 brand yang menjadi rekan atau mitra mereka.

  • Sedekah Makanan 10rb

Merupakan wadah berbagi makanan yang peduli pada anak yatim dan kaum dhuafa di wilayah Bogor. Inisiatif ini dibangun atas dasar kepedulian terhadap upaya pemenuhan kebutuhan pangan kelompok rentan yang bisa dilakukan oleh semua orang, bahkan meski hanya dengan bersedekah sebesar 10 ribu rupiah.

  • Peduli Pendidikan dan Gizi NTT

Gerakan pelayanan sosial yang berdomisili di Nusa Tenggara Timur ini diinisiasi oleh social enterprise tanitenun.org, sebuah yayasan yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat NTT melalui pembinaan tani dan tenun organik. Inisiatif peduli pendidikan dan gizi ini menyasar anak-anak usia sekolah agar kecukupan gizi dan pangan mereka sehari-hari dapat terpenuhi.



Penulis: Fachrial Kautsar
Enumerator:

Masuk