Perempuan dalam Pandemi COVID-19: Terhambat dan Terisolasi

Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang berbeda bagi setiap gender. Perempuan, sebagai salah satu kelompok rentan, mendapatkan pukulan yang lebih besar dari laki-laki di banyak sektor. Hal ini ditunjukkan dari berbagai penelitian yang dilakukan lembaga-lembaga internasional di beberapa negara. Salah satunya adalah hasil penelitian yang dikeluarkan UN Women pada Oktober 2020 lalu.  

Terbatasnya ruang gerak masyarakat berdampak secara tidak proporsional bagi perempuan yang bahkan masih mengalami berbagai keterbatasan di ruang publik jauh sebelum pembatasan sosial berlaku. Akibatnya, pencapaian perempuan dan anak perempuan di berbagai bidang pembangunan dari mulai ekonomi hingga sosial menjadi terhambat. Laporan UN Women menyebutkan bahwa hambatan tersebut ditemukan di semua tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) tanpa terkecuali. 

Perempuan sebagai Penggerak Pekonomian

Terbatasnya mobilitas manusia pada masa pandemi turut mempengaruhi roda perekonomian, dibuktikan dengan resesi yang dialami Indonesia pada Kuartal II 2020 sebesar -5,32?n -3,49% pada Kuartal III. Sebanyak 82% perempuan yang mengandalkan pendapatan dari usaha keluarga pun mengalami penurunan penghasilan dibandingkan dengan 80% laki-laki yang mengalami penurunan serupa namun memiliki sumber pendapatan lain yang lebih beragam. Sebanyak 82% perempuan yang merupakan pekerja informal juga harus mengalami pemotongan gaji atau kehilangan mata pencaharian dikarenakan bertambahnya beban pekerjaan rumah tangga.

Perempuan yang bekerja di sektor pariwisata, pertanian, maupun sektor lain yang bergantung pada lingkungan juga sangat dipengaruhi oleh pandemi COVID-19. Pada Juni 2020, jumlah wisatawan mancanegara turun sebanyak 89%, mengakibatkan pendapatan sektor pariwisata berkurang sebesar 90%. Tidak hanya itu, pandemi COVID-19 juga dibarengi dengan 23 bencana alam di Indonesia sejak Februari 2019. Hal ini juga mengakibatkan terganggunya rantai pasokan komoditas pangan yang diperkuat dengan adanya pembatasan mobilitas.

Sebanyak 50% perempuan memperoleh pendapatannya dari bertani dan menangkap ikan dibandingkan dengan laki-laki yang berada pada angka 31%.  Pada masa pandemi, permintaan ekspor hasil perikanan berkurang sebesar 10-20%. Terganggunya rantai pasokan tidak hanya menurunkan harga komoditas pangan yang menurunkan pendapatan perempuan, tetapi juga dapat menyebabkan kerawanan pangan dari keluarga berpenghasilan rendah.

Perempuan dan Peran Caregiver

Laki-laki lebih rentan tertular dan meninggal di masa pandemi COVID-19 karena mobilitas mereka yang memang lebih tinggi dibandingkan perempuan di Indonesia. Namun, lebih banyak perempuan mengalami peningkatan stres dan kecemasan (57% perempuan). Salah satu alasannya adalah peningkatan beban dalam mengurus rumah tangga dan anggota keluarga yang sakit. Beban ini semakin bertambah khususnya bagi tenaga kesehatan perempuan yang merupakan mayoritas tenaga kesehatan di Indonesia. 

Tidak hanya beban pekerjaan rumah tangga, perempuan juga dihadapkan pada minimnya akses terhadap fasilitas membersihkan tangan. Dengan hanya sekitar 76% penduduk Indonesia yang memiliki fasilitas cuci tangan, masih banyak penduduk yang harus melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan air bersih. Perjalanan untuk memperoleh air bersih pun lebih banyak dilakukan oleh perempuan, dengan peningkatan waktu sebanyak 22?gi perempuan dan 16?gi laki-laki. Peningkatan beban pengambilan air bersih ini juga mengakibatkan terganggunya kesehatan fisik perempuan.

Perempuan juga mengalami tantangan untuk melakukan cek rutin kesehatan. Ketimpangan ketersediaan fasilitas kesehatan dasar di Indonesia membuat perempuan menghadapi tantangan dalam mengakses produk kebersihan dan medis untuk menghindari penularan. Terlebih, kebiasaan di tengah masyarakat yang mengutamakan anggaran kesehatan bagi suami atau laki-laki sebagai tulang punggung keluarga, sehingga mengakibatkan kesehatan perempuan semakin terpinggirkan.

Terancamnya Pencapaian Kesetaraan Gender

Sejak pandemi, kekerasan terhadap perempuan, khususnya perempuan yang telah menikah, berusia 31-40 tahun, dan berpenghasilan di bawah Rp 5 juta, terus meningkat. Pembatasan perjalanan yang memaksa perempuan untuk terus berada di rumah meningkatkan risiko terjadinya kekerasan fisik, psikologis, dan ekonomi oleh suami yang memiliki kecenderungan abusive. Sebanyak 91% penyedia perlindungan perempuan pun tidak bisa secara penuh memberikan pelayanan sejak pandemi COVID-19.

Norma sosial juga masih sangat berpengaruh dalam menentukan alokasi waktu dan tugas rumah tangga yang kian bertambah selama pandemi. Data menunjukkan bahwa meskipun baik laki-laki dan perempuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, perempuan tetap melakukan lebih banyak pekerjaan dibanding laki-laki. Memasak masih dilakukan oleh 24% perempuan dibandingkan dengan 12% laki-laki. Diberlakukannya pembelajaran dari rumah juga tetap menjadi pekerjaan 39% perempuan dibandingkan laki-laki yang hanya 29%.

Dalam mengatasi bertambahnya beban pekerjaan rumah tangga, beberapa keluarga melimpahkan bebannya pada pekerja rumah tangga (PRT). Sejak penyebaran COVID-19, 16% keluarga merekrut PRT dan 26% meminta PRT untuk bekerja lebih lama. Akan tetapi, 37% keluarga memberhentikan PRT mereka karena adanya kekhawatiran penularan. Hilangnya pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, yang 75?alah perempuan, mendorong peningkatan migrasi dalam negeri, sehingga banyak perempuan harus kembali ke kota atau negara asal.

Pengumpulan Data Sebagai Upaya Mitigasi

Seluruh tantangan yang dihadapi perempuan pada masa pandemi selayaknya dapat dimitigasi dengan upaya-upaya yang mengedepankan inovasi teknologi dan kemitraan, sesuai dengan poin SDGs nomor 9 dan 17. Inovasi teknologi tidak hanya dapat memfasilitasi akses ke informasi, pekerjaan, dan pendanaan. Teknologi juga dapat digunakan untuk pengumpulan data sensitif gender, yang nantinya dapat digunakan pembuat kebijakan dalam menyusun langkah intervensi dalam mengatasi masalah-masalah yang mungkin dapat berkembang.



Penulis: Puput Pradani, Ika Kartika Febriana
Enumerator:

Masuk