Momentum Great Reset dan Ancaman terhadap Pencapaian 5 Tujuan Pembangunan di Indonesia

Menjelang pelaksanaan World Economic Forum ke-51 di Davos, Swis, pada 25 Januari 2021 kemarin, wacana besar Great Reset kembali mencuat. Sebelumnya, wacana yang dicetuskan oleh pendiri WEF, Klaus Schwab dan Pangeran Charles ini sempat mengundang kontroversi di kalangan publik pada masa-masa awal pandemi COVID-19.

Kampanye Great Reset oleh WEF digelar sebagai upaya membangkitkan kesadaran otoritas dunia bahwa kebangkitan ekonomi dari pandemi COVID-19 hanya bisa dilakukan bersama dan dalam langkah-langkah yang paling radikal. Mengutip dari situs weforum.org, kampanye The Great Reset juga menekankan pada pentingnya peran otoritas dan pelaku bisnis dunia untuk beradaptasi pada kenormalan baru.

Dengan mengusung semangat “reimagine, rebuild, redesign, reinvigorate, and rebalance our world”, WEF mempromosikan “proposal” untuk mengatur ulang tatanan ekonomi global yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan. Para tokoh dunia yang tergabung dalam WEF berpandangan bahwa dunia pasca pandemi perlu dibangun berdasarkan desain kebijakan yang berinvestasi pada manusia dan lingkungan.

Upaya tersebut tidak akan dapat terwujud tanpa peran serta seluruh pihak. Besarnya dampak pandemi COVID-19 bukan saja memukul sektor kesehatan dan ekonomi, namun juga berdampak besar pada sektor pembangunan lainnya seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kelaparan.

Saat ini, sulit bagi kita untuk membantah pandangan skeptis tentang target ambisius 2030. Tak terkecuali di Indonesia. Diakui Ketua BPK, Agung Firman Sampurna yang mengatakan bahwa setidaknya ada 5 tujuan SDGs kita yang paling terancam akibat krisis COVID-19, yakni:

  • Tujuan Pembangunan 3

Pandemi COVID-19 membuat kemajuan di bidang kesehatan semakin jauh keluar jalur dari target tahun 2030. Peningkatan pesat kasus COVID-19 berdampak pada hilangnya nyawa secara signifikan dan membuat banyak sistem kesehatan kewalahan.

Selama pandemi, masyarakat tidak dapat atau takut untuk pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk melakukan check-up, vaksinasi, dan bahkan perawatan medis yang mendesak. Akibatnya, hal ini dapat berpotensi fatal dan mengancam untuk membalikkan satu dekade upaya perbaikan tujuan kesehatan.

Sebelum pandemi, Indonesia telah mencapai berbagai kemajuan dalam tujuan pembangunan kesehatan. Angka Kematian Balita (AKBa), Angka Kematian Neonatal (AKN), dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang menurun disertai dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang terus meningkat menjadi beberapa indikator yang menunjukkan perbaikan (Bappenas, 2020). Namun kondisi ini berpotensi akan kembali memburuk seiring dengan adanya disrupsi layanan kesehatan akibat pandemi di seluruh wilayah Indonesia.

  • Tujuan Pembangunan 1

Secara global, bahkan sebelum pandemi COVID-19 menyebar, kemajuan menuju tujuan pembangunan 1 telah melambat, dan dunia tidak berada pada jalur yang tepat untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem pada tahun 2030. Sekarang, saat dunia mengantisipasi kejatuhan ekonomi terburuk sejak Depresi Besar, puluhan juta orang akan terdorong kembali ke dalam jurang kemiskinan, merusak tahun-tahun perbaikan yang cukup stabil.

Ketika dampak ekonomi dari pandemi mulai terasa lebih kuat, pentingnya sistem perlindungan sosial yang kuat untuk melindungi orang miskin dan rentan menjadi lebih darurat dibutuhkan. Begitu pula kebutuhan akan kesiapsiagaan darurat yang efektif, baik untuk menghadapi pandemi maupun bahaya lain yang menyebabkan bencana.

Tren penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia yang cukup positif di tahun 2019 (Bappenas, 2020) menghadapi tantangan besar ketika memasuki masa pandemi. Krisis ekonomi yang terjadi berpotensi mendorong ratusan ribu hingga jutaan orang masuk ke jurang kemiskinan.

  • Tujuan Pembangunan 10

Pada tahun 2019, kesenjangan di Indonesia terus menurun yang ditunjukkan dengan menurunnya rasio Gini dari 0,402 pada tahun 2015 menjadi 0,380 pada tahun 2019. Hal ini juga terjadi pada angka kemiskinan, yang terus menurun dari 11,13 pada tahun 2015 menjadi 9,22 pada tahun 2019 (Bappenas, 2020). 

Namun, pembangunan di daerah tertinggal masih memerlukan upaya yang lebih besar lagi, masih ada 62 kabupaten yang merupakan daerah tertinggal. Rata-rata pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal juga belum mencapai target yaitu dari 6,53 persen pada tahun 2015 menjadi 5,01 persen pada tahun 2018. Persentase penduduk miskin di daerah tertinggal menurun dari 18,80 pada tahun 2015 menjadi 17,06 pada tahun 2019, namun laju penurunan ini masih relatif lambat.

Krisis akibat pandemi COVID-19 telah memperburuk permasalahan ketimpangan sosial. Kondisi ini paling parah memukul kelompok yang paling rentan, di mana kelompok tersebut juga sering mengalami diskriminasi secara sosial dan ekonomi.

  • Tujuan Pembangunan 2

Di tingkat global, kelaparan dan kerawanan pangan telah meningkat, dan malnutrisi masih mempengaruhi jutaan anak di seluruh dunia. Situasi ini kemungkinan akan menjadi lebih buruk karena perlambatan dan gangguan ekonomi yang disebabkan oleh resesi yang dipicu pandemi.

Tak terkecuali dalam konteks Indonesia, beberapa capaian baik yang telah didapatkan dalam bidang pengentasan kelaparan di tahun 2019 berpotensi akan buyar akibat hantaman pandemi. Angka prevalensi kecukupan konsumsi pangan dan angka prevalensi stunting yang mulai membaik di tahun 2019 akan menemui permasalah seiring dengan krisis kesehatan dan ekonomi yang terjadi.

  • Tujuan Pembangunan 4

Meski ada kemajuan, namun dunia belum berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target tujuan pendidikan 2030. Sebelum krisis pandemi COVID-19, proyeksi menunjukkan bahwa lebih dari 200 juta anak akan putus sekolah dan hanya 60 persen anak muda yang akan menyelesaikan pendidikan menengah atas pada tahun 2030.

Di Indonesia, penutupan sekolah untuk menghentikan penyebaran COVID-19 telah mempengaruhi sebagian besar populasi siswa. Pendidikan yang terganggu berdampak pada hasil belajar dan perkembangan sosial dan perilaku anak-anak dan remaja di masa yang akan datang.

 

Melalui wacana great reset, diharapkan semakin banyak pihak yang sadar akan pentingnya kolaborasi dan bahaya nyata yang kita hadapi dalam upaya mencapai target pembangunan. Meskipun wacana ini masih banyak menuai kontroversi, terlebih dengan dominannya peran para elit global. Namun semestinya kita semua bisa sepakat bahwa upaya-upaya pembangunan tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama yang eksploitatif dan diskriminatif terhadap kelompok-kelompok tertentu.



Penulis: Fachrial Kautsar
Enumerator:

Masuk