Bagaimana Keterpaparan Masyarakat Terhadap SDGs?

Juli 2020, TRACK SDGs melakukan survei online untuk meninjau keterpaparan masyarakat terhadap isu Sustainable Development Goals (SDGs).

Belum semua responden mengetahui dan mendapatkan informasi soal Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Global.

Sebanyak 344 orang atau 82% responden pernah mendengar, membaca, atau mengetahui soal SDGs, namun masih ada 75 orang atau 18% yang tidak terpapar sama sekali soal tujuan pembangunan global yang sudah diadopsi pemerintah Indonesia sejak 5 tahun lalu tersebut. Apabila ditinjau dari usia dan wilayah tempat tinggal, tidak ada kelompok tertentu yang paling menonjol tingkat keterpaparannya. Namun, ditinjau dari pekerjaan, responden yang bekerja sebagai pekerja tidak dibayar (seperti ibu rumah tangga), wirausaha dan karyawan swasta memang lebih sedikit terpapar isu-isu SDGs dibanding pekerja sosial dan PNS yang pekerjaannya sedikit banyak bersentuhan dengan isu ini.

Sebanyak 52% (11 dari 21 responden) pekerja tidak dibayar dan 36% (14 dari 39 responden) wirausaha tidak pernah terpapar isu SDGs. Padahal, isu SDGs sebetulnya menyentuh segala lini kehidupan masyarakat, sehingga seharusnya diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dengan latar belakang pekerjaan apapun. Di dalam dunia wirausaha misalnya, prinsip-prinsip sustainability atau keberlanjutan sepatutnya diterapkan untuk memastikan pola produksi yang ramah lingkungan seperti yang diamanatkan SDGs Goal 12, Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Meskipun pekerja sosial dinilai lebih paham isu SDGs, ada 2 orang pekerja sosial/NGO/LSM laki-laki berusia 18 - 45 tahun yang mengaku tidak mengetahui apa itu SDGs. Salah satu di antara mereka bahkan mengaku tidak pernah terlibat di dalam aktivitas yang berkontribusi terhadap pencapaian SDGs, serta tidak mengetahui apakah capaian pembangunan saat ini sudah sesuai dengan yang ditargetkan. Padahal, kedua responden ini beranggapan bahwa setiap individu, dari mulai pemerintah sampai dengan pemuka agama, bertanggung jawab terhadap upaya pencapaian SDGs.

Persentase responden yang tidak terpapar isu SDGs berdasarkan pekerjaan

  • 52% (11 dari 21 responden) pekerja tidak dibayar (seperti ibu rumah tangga)
  • 36% (14 dari 39 responden) wirausaha
  • 19% (15 dari 79 responden) karyawan swasta
  • 17% (27 dari 157 responden) tidak atau belum bekerja
  • 8% (2 dari 26 responden) pekerja sosial
  • 7% (5 dari 75 responden) akademisi
  • 5% (1 dari 22 responden) PNS

Sebanyak 75% responden yang pernah terpapar SDGs juga pernah melihat pemberitaan soal SDGs di media massa atau televisi.

Frekuensi melihat pemberitaan soal SDGs di media massa atau televisi

  • 34% sangat jarang, bahkan belum tentu melihat dalam satu bulan
  • 31% jarang, minimal 1 kali dalam seminggu
  • 29% cukup sering, 2 - 3 kali dalam seminggu
  • 5% sering, hampir setiap hari

Ada sebanyak 3 pekerja sosial dan 5 PNS dari 25% responden yang mengaku tidak pernah melihat pemberitaan soal SDGs di media massa atau televisi. Berita soal SDGs di Indonesia memang jarang secara tersurat mengikutsertakan kata-kata SDGs di dalamnya. Menurut Ubbersuggest, sebuah website yang menyajikan data kata kunci dari situs-situs di beberapa negara dunia, hanya satu website media dari 98 situs di Indonesia yang paling banyak menampilkan kata kunci SDGs ketika melakukan pencarian di Google. Website media yang termasuk ke dalam 98 situs teratas tersebut juga bukan merupakan perusahaan media yang memiliki banyak pembaca di Indonesia.

SDGs sendiri sebenarnya mencakup banyak isu yang seringkali diangkat dari mulai ekonomi sampai dengan perdamaian. Meskipun media massa tidak secara tersurat mengasosiasikan setiap berita yang diangkat sebagai bagian dari pemberitaan SDGs, seseorang dengan pemahaman SDGs yang baik seharusnya bisa secara spontan mengasosiasikannya tanpa harus melihat embel-embel kata SDGs. Fakta bahwa masih ada yang mengaku tidak pernah melihat pemberitaan soal SDGs bisa menunjukkan 2 hal. Pertama, level pemahaman masyarakat terhadap SDGs belum terlalu dalam, sehingga isu-isu turunan tujuan pembangunan ini belum secara sadar diasosiasikan dengan SDGs. Kedua, ke 25% responden ini memang tidak pernah terpapar pemberitaan media dan televisi sama sekali.

Sebanyak 89% pernah melakukan pencarian terkait apa itu SDGs melalui mesin pencarian seperti Google. 

Frekuensi melakukan pencarian terkait SDGs

  • 35% jarang, minimal 1 kali dalam seminggu
  • 32% sangat jarang, bahkan belum tentu mencari dalam satu bulan
  • 28% cukup sering, 2 - 3 kali dalam seminggu
  • 6% sering, hampir setiap hari

Angka ini menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat memiliki ketertarikan terhadap isu SDGs. Disinilah sebetulnya peran pemerintah untuk mendorong ketertarikan masyarakat menjadi aksi nyata dalam membantu pencapaian SDGs di tingkat individu. Dengan 17 tujuan dan 169 target pembangunan, SDGs menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Untuk itu, kesadaran dan keikutsertaan seluruh lapisan masyarakat merupakan poin krusial untuk mencapai target-target pembangunan global ini di tahun 2030.

Hanya 64% responden yang mengatakan bahwa upaya pemerintah dalam mencapai target-target pembangunan global memiliki dampak terhadap kehidupan sehari-hari, sementara 21% menjawab tidak berdampak dan 15% mengaku tidak tahu.

Fakta bahwa hanya 64% responden yang menganggap upaya pemerintah dalam mencapai SDGs memiliki dampak bagi kehidupan sehari-hari sekali lagi menggambarkan kurangnya pemahaman masyarakat untuk setiap goals SDGs. Target-target pembangunan yang berusaha dicapai SDGs menyentuh hampir ke seluruh kebutuhan dasar manusia dari mulai makanan yang bernutrisi, pekerjaan yang layak, sampai penurunan polusi. Kurangnya sosialisasi terhadap dampak dari setiap target pembangunan tersebut bagi kehidupan sehari-hari masyarakat menjadi tantangan utama yang harus diatasi agar seluruh pihak bisa berkontribusi terhadap pencapaian SDGs seperti yang diamanatkan dalam slogannya, “Leave No One Behind”.



Penulis: Tim Pengelola TRACK SDGs CISDI
Enumerator:

Masuk